Senin, 09 Juli 2012

Teknik-teknik Konseling Gestalt


1.      Latihan dialog
Tujuannya adalah untuk menciptakan terintegrasinya fungsi serta penerimaan aspek-aspek dari kepribadian seseorang yang selama ini telah tidak dimiliki dan telah diungkiri.
Para terapis Gestalt sangat memperhatikan pada terbelahnya fungsi terbelahnya fungsi kepribadian. Bagi yang utama adalah “kuda hitam” (top dog) serta “kambing hitam” (underdog).
Si kuda hitam, penuh hak, otoriter, moralis, banyak tuntutan, selalu memerintah dan manipulative.
Si kambing hitam bermanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, selalu defensive, lemah dan pura-pura tak berdaya.
Si kuda hitam dan si kambing hitam tiada henti-hentinya terlibat dalam pergulatan untuk memegang kontrol. Si kuda hitam yang tiranis menuntut orang harus seperti ini itu. Sedangkan si kambing hitam menunjukkan sikap menentang. Sebagai akibat dari pergulatan ini maka si individu menjadi terbelah sebagai pengontrol dan yang terkontrol. Kedua pihak berjuang untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. Konflik antara dua kutub yang berlawanan dalam kepribadian itu berakar pada mekanisme introjeksi, yang menyangkut aspek keterlibatan orang lain ke dalam suatu sistem ego.
Teknik kursi kosong
Tujuannya adalah untuk membuat klien mengeksternalisasikan introjeknya, menolong klien untuk berhubungan dengan perasaan atau sisi dirinya yang mungkin mereka ingkari, mereka mengintensifkan serta menghayati perasaan itu secara penuh.
Dalam teknik ini digunakan dua buah kursi. Terapis minta klien duduk di kursi yang satu dan secara penuh menjadi si kuda hitam. Dan beralih ke kursi satunya untuk menjadi kambing hitam.
Ini merupakan teknik bermain peran yang oleh klien dimainkan kedua perannya. Klien dapat menghayati konflik itu, dan diselesaikan oleh klien dengan jalan menerima dan mengintegrasikan kedua sisi itu.
Teknik ini bisa memberikan semangat klien hingga menjadi benar-benar mengahayati peranan yang mereka mainkan, dan hasilnya berupa penemuan kembali aspek otonom dalam dirinya. 

2.      Berkeliling
Berkeliling adalah latihan Gestalt yang mencakup minta seseorang dalam kelompok untuk menuju ke orang lain dalam kelompok, baik untuk berbincang-bincang maupun saling melakukan sesuatu untuk masing-masing.
Tujuannya adalah untuk berkonfontasi, mengambil resiko, mengungkapkan dirinya, bereksperimen dengan perilaku baru, dan tumbuh serta berubah.
Langkah : seorang peserta perlu untuk berhadapan dengan setiap peserta dalam kelompok itu dengan suatu tema tertentu.

3.      “Saya yang memikul tanggung jawab atas..”
Tujuannya adalah untuk menolong klien mengenali dan mau menerima perasaan mereka dan bukan memproyeksikan perasaan mereka pada orang lain.
Contoh : “Saya merasa kesepian, dan saya memikul tanggung jawab atas rasa kesepian saya itu”. Rasanya saya ini tidak masuk hitungan dan saya bertanggung jawab atas perasaan saya ini. “Saya tidak tahu mau bilang apa sekarang, dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan saya itu”. 

4.      Bermain dengan projeksi
Dinamika projeksi terdiri dari apa yang oleh seseorang dilihat dalam diri orang lain hal-hal yang ia tidak mau lihat dan tidak mau menerimanya sebagai yang ada pada dirinya. orang dapat menanamkan banyak energi untuk mengingkari perasaan dan menuduhkan motifnya pada diri orang lain.
Dalam bermain dalam projeksi, terapis minta kepada orang yang mengatakan “ Saya tidak bisa mempercayai anda” untuk memainkan peran orang yang tidak bisa dipercayai itu yaitu untuk menjadi orang lain agar bisa menemukan tingkat rasa tidak percaya yang merupakan konflik batin itu.

5.      Teknik pembalikan (reversal)
Teori yang mendasari teknik reversal adalah bahwa klien terjun ke dalam suatu kepalsuan dengan penuh keinginan untuk tahu dan mengadakan kontak dengan bagian dari dirinya yang telah tenggelam dan diingkari.
Tujuan teknik ini bisa menolong klien untuk mulai menerima atribut-atribut personal tertentu yang telah mereka usahakan untuk diingkari.
Gejala dan perilaku tertentu seingkali mewakili suatu pembalikan dari impuls laten yang ada dibawahnya. Terapis meminta seseorang untuk merasa menderita pencegahan sangat berat serta rasa malu-malu yang berlebihan dengan memainkan peran sebagai seorang ekshibisionis dalam kelompok itu. Saya ingat seorang wanita yang ada dalam satu dari kelompok saya yang sulit untuk menjadi orang selain menjadi orang yang manis. Saya memintanya untuk mereversi (berbuat sebaliknya) gayanya yang khas dan menjadi yang senegatif mungkin. Dia segera memainkan perannya dengan penuh semangat dan selang beberapa lama mampu mengenali dan mau menerima “sisi negatif” dan juga “sisi positif” dirinya.  

6.      Latihan Gladi
Dalam khayalan kita mengadakan gladi untuk peranan yang kita kira diharapkan orang untuk kita mainkan dalam masyarakat. Kita mengalami demam panggung atau kekhawatiran, oleh karena kita takut kita tidak bisa memainkan peran kita dengan baik.
Anggota kelompok terapi bisa saling berbagi gladi agar bisa mempertebal kesadaran akan sarana persiapan yang banyak yang mereka gunakan untuk membantu menggelidingkan peran sosial mereka. Mereka makin menjadi sadar betapa mereka demikian keras berusaha untuk memenuhi harapan orang lain, sadar akan tingkat kadar penerimaan, persetujuan, dan disukai yang dia kehendaki dan tentang sejauh mana mereka pergi untuk mendapatkan penerimaan.    

7.      Latihan membesar-besarkan
Salah satu sasaran terapi Gestalt yang ingin dicapai adalah bahwa klien menjadi lebih sadar akan pertanda serta petunjuk yang rumit yang mereka kirimkan lewat bahasa isyarat.
Orangnya diminta untuk berkali-kali melakukan gerakan atau isyarat tubuh secara berlebihan, yang biasanya mengidentifikasikan perasaan yang melekat pada perilaku itu dan menjadikan makna internnya lebih jelas.
Misalnya, kalau kliem melaporkan bahwa dirinya gemetaran, maka terapis bisa meminta klien untuk berdiri tegak dan melebih-lebihkan gemetarannya. Kemudian bisa ditanyakan kepada klien untuk mengutarakan tubuhnya yang gemetaran itu dalam bentuk kata-kata.

8.      Bertahan dengan perasaan yang ada
Terapis minta kepada klien untuk tetap bertahan dengan rasa takut dan kepedihan macam apapun yang mereka hayati pada masa ini dan membangkitkan semangat mereka untuk menyusup lebih dalam lagi ke perasaan dan perilaku yang ingin mereka hindari.
Membangkitkan keberanian suatu pertanda akan kemauan untuk bertahan dengan penderitaan yang harus ada agar bisa menghilangkan kendala serta menguak jalan akan tingkat pertumbuhan yang baru. 

9.      Pendekatan Gestalt pada kerja mimpi
Dalam psikoanalisis mimpi merupakan pemahaman intelektual yang diinterpretasikan, dan dipakai asosiasi bebas sebagai satu metode mengeksplorasi makna dari suatu mimpi yang luput dari alam sadar.
Tujuannya adalah membawa mimpi itu kembali hidup dan menghidupkan kembali seolah-seolah terjadi sekarang.
 Langkah : penyusunan daftar dari semua mimpi itu secara rinci, dengan mengingat kembali setiap orang, peristiwa, dan suasana hati didalamnya, dan kemudian menjadi bagian dari setiap bagian itu dengan jalan mentransformasikan diri, berlaku sepenuh-penuhnya dan menemukan dialog. Setiap bagian dari mimpi itu diasumsikan sebagai projeksi diri maka orang menciptakan naskah tentang pertemuan antara berbagai watak atau bagian-bagian. Semua dari bagian yang berbeda-beda dari mimpi merupakan ekspresi dari sisi yang kontradiktif serta tidak konsisten. Jadi, dengan jalan berdialog antara sisi-sisi yang bertentangan ini, orang secara bertahap akan menjadi lebih sadar akan tingkat perasaannya sendiri.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar